Mangatam Banih di Kalimantan Selatan

South Kalimantan

Ini nih foto yang kuambil sendiri, lahan padi yang mulai menguning. Kata orang di sana, tahun ini panennya lebih cepat dan tidak merata. Oh iya, padi di daerah sini juga berbeda, batangnya lebih tinggi bisa mencapai dada orang dewasa, jika menguning maka daunnya juga terikut merunduk. Cantik banget kalau liat langsung.

Padi yang siap di panen

Selain itu, padi di daerah sini panennya setahun sekali saja. Butiran berasnya juga kecil-kecil, berbeda dengan ukuran butiran beras lainnya yang lebih besar. Rasa ketika sudah di nanak menjadi nasi, juga lebih enak. Hmm.. gimana ya, berasa kalau makan tuh pengin nambah terus, hehehe.

Cara memanen di daerah sini juga masih dengan cara tradisional banget, karena masih di daerah pedesaan yang lumayan jauh dari kabupaten. Jadi panennya tuh bisa sampai seharian kalau lahannya luas. Bisa bayangin kan gimana capeknya jadi seorang petani?

Jadi tuh, karena ini pertama kalinya aku ngelihat langsung panen padi, sampai mamiku bilang gini, “ini nih yang kamu makan hari-hari”. Tapi beda sih kalau yang daerahnya dekat kabupaten, di sana panennya sudah pakai mesin (lupa namanya apaan), yang kata papi sehari tuh bisa panen sampai beberapa hektar lahan padi. Lebih cepat.

Cara memanen padi dengan cara tradisional menggunakan alat khusus

Nah, gunakan alat yang kalau kata Papi (asli orang Jowo) namanya aniani. Kalau kata orang Banjar tuh namanya, ranggaman. Oh iya, kalau bahasa Banjarnya memanen padi tuh mangatam banih, hanya info kok ya 😁 Tapi jujur deh, aku cobain pakai alat itu susah banget, yang ada batang padinya malah patah 😅 padahal waktu adek ku cobain bisa, malah kayak udah pro. Keliatannya tuh gampang bangeeeeet, sumpah deh!

Yah, jadilah, waktu itu aku cuma jadi tukang foto mereka yang asyik minta fotoin candid ☺

Banih yang di jemur

Nah, kalau ini banih yang lagi di jemur. Biar kering. Karena kalau baru di panen, terus kalau di kupas kulitnya, di makan berasnya, di gigit itu masih lemah, nggak keras gitu maksudnya. Nah, makanya di jemur gini. Kalau abis di jemur, nanti banih nya itu jadi keras.

Kalau sudah kering, banih tsb di masukkan ke dalam karung untuk di bawa ke pabrik banih biar jadi beras sungguhan.

Oh iya, pabrik banih ini masih tergolong baru. Karena terakhir aku ke sana, mengolah berasnya tuh masih pakai cara tradisional juga, menggunakan alat yang bernama gumbaan, nah ini lupa aku foto. Biasanya alat tersebut ada di setiap rumah petani.

.

Nah, begitulah.

Ini pengalamanku yang benar-benar baru. Karena setiap aku ke sana, pasti bukan musim panen padi. Jadi enggak bisa ngelihat memanen padi secara langsung. Biasanya kalau ke sana malah musim panen rambutan 😅 Mungkin tahun ini aku lagi beruntung kali ya (?) (Keluargaku deng, bukan akunya aja). Kebetulan (nggak ada yg namanya kebetulan) yang hebat banget, karena bilang orang di sana tuh biasanya panennya sekitaran bulan delapan. Biarpun panen kali ini enggak merata keseluruhan lahan.

Pengalaman pertama kali yang benar berharga 🙂

.

Mathar-

3.7.17

KalSel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s