Hilang

pixabay.com

Detik ini, ada bagian diriku yang hilang.

Sesuatu yang berharga, tak dapat ditukar. Entah harus sedih ataupun bersyukur. Karena masih diizinkan oleh Sang Kuasa, menjejak bumi-Nya.

Mengejar mimpi, meraih impian.

Hanya saja…

Aku ingin, merasakan indahnya Iman dan Islam.

Aku ingin baik di mata-Mu. Aku ingin mendapat syafa’at Rasul-Mu.

Aku ingin selalu dekat dengan-Mu. Aku ingin selalu bersholawat pada Rasul-Mu.

Aku ingin, mati dalam keadaan husnul khotimah.

Malam ini, umurku hilang setahun.

.

.

00.01 AM

16 Juli 2017

-Mathar-

Impian Aneh (?)

Kali ini, aku kepengin cerita tentang impianku yang cukup aneh.

Aku pengin banget ngajarin anak-anak kecil yang masih polos. Semacam pengin jadi guru SD/TK tapi yang di pedesaan gitu (tau kan zaman sekarang anak SD di perkotaan pegangannya aja udah gadget mahal). Pengin ngajarin mereka baca, tulis, hitung. Karena aku suka banget ngelihat orang-orang yang ngajar anak kecil dengan sabarnya. Apalagi aku lumayan sering stalking akun instagram guru-guru yang ngajar di pedalaman daerah, bahkan yang belum ada listrik dan jaringan internet. Menurut aku, mereka itu keren. Keren banget malah. Pokoknya yang di atasnya keren lah, bahasanya tuh. Luar biasa.

Selain itu, karena anak di desa biasanya semangat belajar mereka menggebu-gebu. Aku selalu suka ngelihat orang dengan semangat yang menggebu-gebu. Kalau anak-anak di perkotaan kan, cenderung manja. Dan memang ada beberapa yang tidak.

republika.co.id

Tapiiii… aku pernah cerita begini di depan anak pedesaan. Tentang anak kecil di desa yang polos, terus tentang anak kecil perkotaan yang moderen banget. Dia malah bilang gini, “sekarang sama aja.” Nah, itu menunjukkan bahwa sekarang pun, anak-anak di desa juga mulai mirip sama anak-anak di perkotaan. Mungkin, karena anak desa yang mendengar ceritaku, bukan tinggal daerah pedalaman banget. Karena di sana sudah ada listrik dan terjangkau jaringan internet (walaupun tidak terlalu cepat). Mungkin masih ada anak-anak desa yang bener-bener polos, kayak yang aku bayangkan.

Nih, yang bikin impianku ini aneh yaitu, aslinya aku nggak begitu senang dengan anak kecil. Suka nggak sabaran juga. Sepupuku yang masih SD aja sering kumarahi gara-gara kalau ngomong suka nyaring banget. Karena aku orangnya nggak suka terlalu ribut. Terus aku juga nggak bisa asik sama anak kecil kayak orang-orang. Kalau mukanya imut, ya imut aja. Paling cuma memuji bentar, abis itu udah deh. Nggak kayak teman-temanku, atau orang-orang yang biasa kutemui, pasti mereka langsung pengin gendong, bahkan sampai pengin bawa pulang, haha. Makanya kalau udah disuruh jagain anak kecil sama keluarga dikarenakan mamanya sibuk, haduuuuh… rasanya tuh ya, kalau katanya Dilan mah BERAT. Bingung lah mau ngapain. Ngajak main juga bingung mau main apaan. Jadi ya sering-sering aja kukasih senyum tuh anak kecil, hehe biar bisa ketawa gitu lho. Canggung sama anak kecil mah juga kagak enak, kayak canggung sama gebetan gitu lho nggak enaknya.

Kok malah curhat gini ya (?) Kembali deh ke topik sebelumnya tentang impian yang aneh.

Nah. Selain itu, kenapa aku kepengin ngajar anak-anak. Karenaaaa… aku pengin nebar virus BACA. Iya! Karena aku ini maniak baca. Kasih aku hadiah buku, bakal kuterima dengan hati yang berbunga-bunga + kupu-kupunya, deh πŸ˜‰

pixabay.com

Menurut aku, membaca itu penting! Penting banget! Banget banget banget lah pokoknya. Makanya sering tuh, ada istilah ‘budayakan membaca’. Karena… di sekitar-sekitar nih ya, masih banyak yang males baca.

Dan, nyebar virus baca pada anak-anak usia dini itu lebih mudah. Walaupun tetap susah juga. Karena kalau udah menginjak remaja, kebiasaan membacanya masih males, bakal susah buat di ubah. Bahkan, bisa jadi enggak dapat di ubah, kecuali kesadaran diri masing-masing. Kan aku juga nggak bisa dong, memaksakan kehendak biar semua orang suka baca kayak aku. Itu mah namanya pemaksaan. Aku juga terbiasa maklumi kok, teman-teman aku yang nggak begitu suka sama baca buku. Atau sukanya sama bacaan tertentu aja. Kan kalau udah remaja gitu, pasti punya hobi masing-masing.

Jadi pentingnya nebar virus baca pada anak usia dini itu, biar mereka punya kebiasaan baca. Walaupun, mungkin nggak jadi orang yang penggila baca, yang kalau ke mana-mana tuh bawa buku. Kan, harus nyesuaikan dengan keadaan dan tempat juga. Menurutku juga, orang yang suka baca itu biasanya dari kecil memang suka sama buku-buku cerita. Semacam kebiasaan dari kecil yang akhirnya jadi kebiasaan juga hingga dewasa.

pixabay.com

Aku memang nggak memaksa semua orang itu harus suka baca. Nih, aku peringatkan lagi. Tapi aku suka aja gitu ngelihat orang yang lagi serius baca buku. Pokoknya pemandangan mantap dah. Senangnya mirip-mirip lah, sama kayak ngelihat cowok idola yang lagi serius baca Al-Qur’an (Masha Allah bangetlah pokoknya). Dan… dari rasa suka senang itulah muncul keinginanku buat menyebar virus baca. Etdah, mungkin aku kesepian karena jarang ada teman yang ngomongin buku hehehe.

Tapi aku punya satu pesan deh, sebagai penutup. Pesan buat orang-orang yang suka baca. ‘Biar suka baca buku, jangan lupa juga bacain kitab masing-masing, yaks! (Bacain kitab agama lain juga nggak apa sih)’

Yah begitulah intinya. Sudah dulu deh, sepertinya aku sudah menulis panjang?

Mau tanya juga nih, kalian pernah pengin tebar virus baca juga, nggak?

.

Btw, jangan bosan yah, kunjungi blog amburadul milik Mathar ini😊😊😊😊

Arigatou.

.

With love,

Mathar

Kuingin

Kuingin belajar,

Bagaimana memahami bahasa

Tak asing namun sulit

Memahami tata letaknya

Menyelam di antara kata

Memeluk setiap abjadnya

Membiarkan menari dalam pikiran

Lalu menulis apa yang seharusnya di tulis
Tetapi, semua hanyalah harapan semu

Tersapu oleh udara malam tadi

Terpojok di sudut harap paling dasar

Tak tersentuh

Tak terlihat

Tak juga di mengerti

Lalu terkubur, tertutup

Kemudian hilang

Namun masih membekas
Itu hanya harapan semu,

Tak juga tergapai.

.

.

Mathar

Mangatam Banih di Kalimantan Selatan

South Kalimantan

Ini nih foto yang kuambil sendiri, lahan padi yang mulai menguning. Kata orang di sana, tahun ini panennya lebih cepat dan tidak merata. Oh iya, padi di daerah sini juga berbeda, batangnya lebih tinggi bisa mencapai dada orang dewasa, jika menguning maka daunnya juga terikut merunduk. Cantik banget kalau liat langsung.

Padi yang siap di panen

Selain itu, padi di daerah sini panennya setahun sekali saja. Butiran berasnya juga kecil-kecil, berbeda dengan ukuran butiran beras lainnya yang lebih besar. Rasa ketika sudah di nanak menjadi nasi, juga lebih enak. Hmm.. gimana ya, berasa kalau makan tuh pengin nambah terus, hehehe.

Cara memanen di daerah sini juga masih dengan cara tradisional banget, karena masih di daerah pedesaan yang lumayan jauh dari kabupaten. Jadi panennya tuh bisa sampai seharian kalau lahannya luas. Bisa bayangin kan gimana capeknya jadi seorang petani?

Jadi tuh, karena ini pertama kalinya aku ngelihat langsung panen padi, sampai mamiku bilang gini, “ini nih yang kamu makan hari-hari”. Tapi beda sih kalau yang daerahnya dekat kabupaten, di sana panennya sudah pakai mesin (lupa namanya apaan), yang kata papi sehari tuh bisa panen sampai beberapa hektar lahan padi. Lebih cepat.

Cara memanen padi dengan cara tradisional menggunakan alat khusus

Nah, gunakan alat yang kalau kata Papi (asli orang Jowo) namanya aniani. Kalau kata orang Banjar tuh namanya, ranggaman. Oh iya, kalau bahasa Banjarnya memanen padi tuh mangatam banih, hanya info kok ya 😁 Tapi jujur deh, aku cobain pakai alat itu susah banget, yang ada batang padinya malah patah πŸ˜… padahal waktu adek ku cobain bisa, malah kayak udah pro. Keliatannya tuh gampang bangeeeeet, sumpah deh!

Yah, jadilah, waktu itu aku cuma jadi tukang foto mereka yang asyik minta fotoin candid ☺

Banih yang di jemur

Nah, kalau ini banih yang lagi di jemur. Biar kering. Karena kalau baru di panen, terus kalau di kupas kulitnya, di makan berasnya, di gigit itu masih lemah, nggak keras gitu maksudnya. Nah, makanya di jemur gini. Kalau abis di jemur, nanti banih nya itu jadi keras.

Kalau sudah kering, banih tsb di masukkan ke dalam karung untuk di bawa ke pabrik banih biar jadi beras sungguhan.

Oh iya, pabrik banih ini masih tergolong baru. Karena terakhir aku ke sana, mengolah berasnya tuh masih pakai cara tradisional juga, menggunakan alat yang bernama gumbaan, nah ini lupa aku foto. Biasanya alat tersebut ada di setiap rumah petani.

.

Nah, begitulah.

Ini pengalamanku yang benar-benar baru. Karena setiap aku ke sana, pasti bukan musim panen padi. Jadi enggak bisa ngelihat memanen padi secara langsung. Biasanya kalau ke sana malah musim panen rambutan πŸ˜… Mungkin tahun ini aku lagi beruntung kali ya (?) (Keluargaku deng, bukan akunya aja). Kebetulan (nggak ada yg namanya kebetulan) yang hebat banget, karena bilang orang di sana tuh biasanya panennya sekitaran bulan delapan. Biarpun panen kali ini enggak merata keseluruhan lahan.

Pengalaman pertama kali yang benar berharga πŸ™‚

.

Mathar-

3.7.17

KalSel

Teruntuk Kawan

Tetap semangat, kawan. Jangan mudah menyerah. Tujuanmu ada di depan mata. Mimpimu semakin dekat. Tinggal kedua matamu tuk melihat lebih jeli. Di sepanjang jalan itu, masih tersisa langkah-langkah yang tidak pernah sia-sia. Langkah saat kau mengejar kilau mimpimu. Kau tahu, di balik punggungmu. Ada seseorang, yang khawatir jika kau jatuh, yang teramat sedih jika kau putus asa. Jangan sedih dengan pencapaianmu semacam itu. Itu bukan tujuanmu. Mimpimu tidak berada di situ. Mimpimu berada di sana. Hai kawan, jangan hilang semangat. Raih lagi semangatmu. Sang mimpi sedang menunggumu.

pinterest.com

.

(Untuk kawan istimewa)

Mathar

15.6.17