“Bayangan”

Kamis, 5 Oktober 2017

.

“​Ia telah membayangkan lebih akan sesuatu.

Bahwa, suatu hari nanti, ia akan melihat momen-momen tersebut tersimpan rapi, yang dibidik langsung oleh lensa buatan manusia.”

.

19.10.17

-Mathar-

Iklan

“Matahari Senja”

Tentang Matahari Senja, yang seringkali kutulis.

Terkadang Matahari Senja hadir, dengan singgasana megah.

Terkadang Matahari Senja hadir, dengan perpaduan elegan.

Terkadang Matahari Senja hadir, dengan perhiasaan sederhana.

.

Masih tentang Matahari Senja,

Yang terkadang tidak terhiraukan,

Yang terkadang luput dari penglihatan,

Yang mampu menanggalkan rasa ingin bertemu.

.

Kau tahu, padahal Matahari Senja masih ada.

Berupa serpih-serpih kaca menyilaukan.

Bersama impiannya, impianmu, juga impianku.

Berlalu dalam peredarannya masing-masing.

Menunggu kapan semua akan bertemu, lalu saling menyapa.

.

.

Terinspirasi dari “Matahari Senja” yang belum kutemukan.

pixabay.com

.

24.9.17

-Mathar-

Rendah

Saya pernah merasa terlalu rendah, merasa nggak ada apa-apanya. Sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Semacam,

“apa bakat yang saya punya?”

“apa potensi yang ada pada diri saya?”

Dan sebagainya.

Lalu saya memercayai kalimat, “setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan.”

“Tapi, apa kelebihan yang saya punya?”

Saya mencoba mengabaikan segala pertanyaan semacamnya yang seringkali muncul kala itu. Saya mulai mencari-cari apa tujuan saya, apa yang saya suka, apa yang seharusnya menjadi bagian dari diri saya. Saya menemukan menulis. Juga puisi yang memperindah. Saya menemukan mimpi baru!

Tetapi, ada saja keraguan. Yang kadang-kadang mampu melampaui tekad, mengalahkan keyakinan. Yang kadang-kadang, ada rasa takut untuk menggapai setinggi-tingginya.

Lagi-lagi saya memerhatikan sekitar, masing-masing memiliki bakat, prestasi, tujuan yang jelas. Apakah saya boleh cemburu? Saya ikut senang jika orang lain senang, itu mudah. Tapi sekali lagi, apakah saya boleh cemburu? Timbul kembali pertanyaan-pertanyaan lama yang seharusnya tidak dipertanyakan.

Entahlah, kenapa seringkali saya merasa rendah, tidak ada apa-apanya. Lalu timbul pertanyaan baru, “saya ini bisa apa?” Pertanyaan yang nggak banget, macam orang putus asa!

Sampai sekarang pun, terkadang saya masih mempertanyakan hal yang sama. Pertanyaan yang tidak seharusnya dipertanyakan. Karena sekali lagi, setiap manusia mempunyai kelebihan juga kekurangan. 

Tetapi… Semua pertanyaan itu seakan sudah lenyap. Dikarenakan Doa. Doa telah menguatkan saya. Doa memiliki kekuatan. Ada yang bilang, “kalau kita nggak punya apa-apa, kita punya Doa.”

Sadar akan sesuatu. Saya pernah memiliki pertanyaan-pertanyaan itu, dikarenakan lupa akan kekuatan Doa. Bahwa, saya punya Doa.

Percaya.

Bahwa,

ALLAH MAHA ADIL.

.

pinterest.com

.

17.9.17

-Mathar-

Kerinduan pada Rasulullah SAW


Siapakah engkau yaa Muhammad SAW…

Begitu dahsyatnya engkau berada direlung hati kami…

Seluruh para penghuni alam ini membicarakan engkau…

Jika bukan karena engkau yaa Muhammad SAW…

Semua kami tidak akan pernah mengenal Rabb kami…

.

Duhai ALLAH…

Maukah Engkau menghadirkan Beliau dalam mimpi kami?…

Memandang kesejukan wajahnya dalam pelukan hati…

Mendengar kemerduan suaranya memanggil Engkau…

Sebentar saja Yaa ALLAH…

.

Duhai ALLAH…

Semoga Engkau bangkitkan kami dalam barisan…

Yang sama bersama Rasul kami…

.

Yaa Habibi Yaa Rasulullah…

.
Dari yang merindukanmu…

. . .

.

.

Puisi karya Almarhum Ustadz Jefri Al Buchori

Pagi bersama Mimpi

Suatu pagi.

Jutaan harapan melayang ke angkasa. Ditemani awan-awan yang menaungi. Udara segar menyambut riang. Matahari masih setia berbagi sinarnya. Embun di dedaunan tersapu. Dersik menyejukkan sekian doa yang dipanjatkan.

Hari dimana harapan mulai terbentuk. Menciptakan sesuatu bernama mimpi. Tinggi hingga menyentuh langit. Terlihat tak terjangkau. Namun, semangat menguatkan segalanya. Tekad untuk menuju apa yang harus dituju. Mengejar tiada lelah, anti menyerah. Tiada usaha yang berakhir. Tiada juga doa yang selesai. Semua terekam oleh waktu. Dikejar oleh waktu. Oh bukan, waktu hanya terus berjalan seperti biasa. Detik, menit, jangan pernah sia-sia.

Inginnya, malaikat membentangkan sayap. Mengaminkan doa-doa dalam hati mereka. Dan Tuhan memeluk mimpi-mimpi mereka.

Suatu hari, mimpi tersebut ada dalam genggaman mereka.

.

.

9 Jul 17

Suatu pagi dinaungi langit Martapura.

Langit Martapura

Mathar

Jelajah Mengenal Novel

Boleh jadi, awal aku tahu novel itu benar-benar nggak terduga.

Sekitar 8 tahun yang lalu, aku masih duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar. Aku punya teman yang hobinya baca novel, namanya Bella. Dia suka membawa buku-buku seri KKPK penerbit DAR! MIZAN. Awalnya, aku nggak paham, sering bertanya sama diri sendiri setiap ngelihat Bella membawa buku-buku tersebut, atau setiap dia cerita tentang novel, dan novel apa yang baru dibelinya.

“Novel itu apa?”

“Itukah yang namanya novel?” *btw, ini nanyanya kayak ngajak kelahi

“Cover bukunya cantik,”

“Kira-kira ceritanya tentang apa ya?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala setiap melihat buku itu. Aku juga pernah bertanya sama Bella, “novel itu apa?” Bilangnya, novel itu semacam buku cerita. Aku cuma mengangguk-angguk setengah paham.

Hingga suatu hari, saat kami sedang berkunjung ke rumah salah satu teman sekelas. Dia membawa satu buah buku, dan mulai membacanya. Saat itu aku sedang duduk disampingnya, dan ikutan membaca apa yang sedang dibacanya. Dia pun berbagi bacaannya. Walaupun dia bacanya sudah dibagian pertengahan halaman, namun aku tetap ikutan saja membaca. Nggak peduli kalau nggak ngerti jalan ceritanya gimana, yang penting baca. Tapi anehnya, aku bacanya nggak berasa sama sekali, habis dua bab lebih. Kayak nikmat aja gitu.

Mungkin karena ketagihan. Saat aku dan keluarga berkunjung ke Balikpapan, dan kebetulan lagi jalan-jalan di mall. Aku langsung terpikir menuju Gramedia. Dan aku minta sama Papa buat dibelikan buku cerita. Aku pilih cover yang cantik, dan ada label Kecil-Kecil Punya Karya, persis buku yang sering dibawa Bella. Rasanya tuh senang banget waktu pertama kali beli buku kayak gituan, abis covernya cantik banget sih 😁

Novel pertama yang dibeli

(Itu fotonya aku ambil dari goodreads.com ya, karena sepertinya buku itu belum dikembaliin sama sepupuku karena di lemari nggak ada.)

Sebelum aku kenal novel, aku memang sudah suka baca sejak umur 5 tahunan. Mungkin karena faktor keturunan dari orang tua (?) Tapi saat itu, bacaanku masih berupa kisah 25 Nabi & Rasul, kisah tentang Neraka Surga, fabel Kancil dkk, Legenda Nusantara, Abunawas, majalah Bobo, majalah Donald bebek, atau cerita yang nyempil disetiap bab buku pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar πŸ˜€ kadang-kadang juga ada di buku pelajaran Agama Islam sama PKn. Pokoknya, zaman aku SD dulu, nggak pernah ketinggalan bacain cerita-cerita teladan yang ada di buku-buku pelajaran πŸ˜‰

Oke, kembali lagi tentang novel.

Novel pertamaku itu bukan novel, tapi berupa kumpulan cerpen karya Sri Izzati. Kayaknya, saat itu aku salah beli, karena itu baru pertama kali. Didalamnya, ada tiga buah cerpen yang berbeda-beda jalan ceritanya. Sejak itu, aku jadi sering minta belikan buku-buku semacam itu lagi. Tapi karena saat itu masih minta belikan sama orang tua, jadi aku jarang banget beli, paling-paling enam bulan sekali kalau liburan semester.

Kedua kalinya beli novel

Nah, itu kedua kalinya aku beli novel. Langsung beli dua buku, hehe. Di usiaku yang masih sekitar 8 tahunan, aku menghabiskan buku tersebut hanya beberapa jam, mungkin sekitar dua jam-an. Dan anehnya, entah kenapa, aku beli begituan dua kali berturut-turut selalu di Gramedia Balikpapan. Padahal di Samarinda juga ada Gramedia πŸ˜‚ Entahlah, mungkin itu takdir.

Masa SD-ku, mulai dari kelas empat dihiasi oleh bacaan-bacaan sejenis KKPK. Hingga aku mulai memasuki zaman SMP, awal mengenal novel Remaja Teenlit.

Berawal dari kakakku yang meminjam novel Jingga dan Senja karya Esti Kinasih. Aku mencoba membaca bagian dibelakang cover lalu membaca awal-awal cerita. Tapi karena novel itu keburu dikembalikan ke temannya, alhasil aku bacanya nggak tuntas.

Kelas delapan SMP. Hari kedua ajaran baru. Masih pagi. Entah datangnya dari mana, di kursi yang harusnya menjadi tempatku duduk, tergelatak sebuah novel, judulnya First. Covernya warna oranye. Cantik. Saat itu aku kepengin langsung baca, tapi karena nggak tau itu punya siapa, jadi langsung kupindahkan ke meja sebelah. Ternyata beberapa hari kemudian, kata teman-teman sekelas, itu novel punya kakak kelas yang tertinggal. Baru deh, aku mulai baca tuh novel, kali ini sampai tuntas.

Novel remaja pertama yang dibaca tuntas

(Lagi-lagi aku ambil gambar itu dari goodreads.com)

Mulai saat itu, aku jadi senang baca novel remaja, dan mulai jarang baca semacam KKPK. Uniknya, novel remaja pertama yang kubaca judulnya First! Unik kan ya??? *maksa

Masalahnya, mulai dari itulah aku nggak pernah lagi dibelikan novel sama orang tua. Mereka bilang, lebih baik baca buku pelajaran, daripada novel. Tapi tetap aja aku nggak nurut sampai sekarang. Masih suka baca novel. Jadi, waktu zaman SMP aku lebih sering pinjam daripada beli 😁

Novel remaja pertama yang kupunya

Refrain karya Winna Efendi, menjadi novel remaja pertama yang kupunya. Ini merupakan hadiah ulang tahunku ke 13, pemberian dari sahabatku sejak kelas 8. Berawal dari kesukaanku terhadap film Refrain yang di bintangi oleh Afgan dan Maudy. Aku jadi pengin baca novelnya, dan aku sempat cerita ke sahabatku kalau kepengin banget baca novel itu. Tapi saat itu belum kepikiran buat beli sendiri. Jadilah, saat hadiah itu kubuka, dan tahu ternyata isinya novel yang judulnya Refrain. Aku senang banget, pengin teriak tapi enggak teriak jugak, hehe.. ya pokoknya saking senangnya gitulah.

Setelah itu, aku mencoba membeli novel sendiri pakai uang tabungan. Milihnya itu lamaaaaaa pake banget. Lebih dari satu jam. Mungkin karena saat itu baru pertama kalinya, beli novel remaja sendiri. Alhasil, inilah novel yang akhirnya kubawa pulang. Lagi-lagi, aku terpaku sama covernya aja. Warna pink, gitu. Cantik.

Novel remaja pertama yang kubeli

Sejak pengalaman beli novel remaja sendiri itulah, aku jadi kebiasaan ngumpulin uang saku buat beli novel. Walaupun belinya paling-paling enam bulan sekali. Aku juga mulai punya penulis favorit lokal sampai novel favorit. Penulis favoritku, mulai dari Winna Efendi, Prisca Primasari, Esti Kinasih, Dee Lestari, Tere Liye, A. Fuadi, Andrea Hirata, Windhy Puspitadewi, Luna Torashyngu, dan masih banyak lagi. Novel pertama yang langsung kujadikan novel favorit adalah Perahu Kertas karya Dee Lestari.

Kalau sekarang, aku lagi pengin baca karya Pramoedya Ananta Toer, tapi belum terwujud sampai sekarang 😦 Btw, komik yang paling kusuka Detektif Conan-nya Aoyama Gosho πŸ˜€

Mulai memasuki zaman SMA, aku mulai mengenal sastra. Berawal dari baca cerpen-cerpen kompas. Favoritku sampai sekarang masih Agus Noor. Tapi aku juga suka karya dari Seno Gumira A., Eka Kurniawan, Avianti Armand, dan lain-lain. Mulai dari situ, aku jadi penikmat puisi dan semacam kata indah lainnya.

Dan kurang lebih sekitar setahun yang lalu, seringkali aku mulai ikutan giveaway yang hadiahnya buku. Lumayan kan dapat buku gratis, sekaligus menambah koleksi bacaan πŸ˜‰

Apalagi kalau ada diskon buku. Waduuuh… itu mah antara pengin nangis senang sama nangis sedih. Senang, karena jarang banget ada yang namanya diskon buku. Sedih, karena tiap ada diskon buku selalu pas-pasan lagi singkip πŸ˜₯

Begitulah perjalananku dengan novel 😊

Sampai sekarang, aku masih menjelajahi novel. Pengin baca banyak novel dari seluruh dunia. Membaca berbagai genre novel. Karena tiap-tiap aku baca sebuah buku, aku kayak punya pengalaman baru. Terkadang, aku pernah juga merasa menjadi tokoh utama sebuah cerita. Sampai bisa merasakan emosi yang terpancar dari tokoh tersebut.

Yah. Biarpun yang kubicarakan di tulisan ini tokoh utamanya novel. Tapi aku tetap cinta buku, biar bagaimana pun juga. Nggak harus novel, kasih aku buku gratis apa pun itu, kuterima dengan senang hati, kok 😊😊😊😊

Sampai sekarang pun, biar aku dilarang baca novel dan semacamnya, aku tetap aja baca novel. Sesekali beli novel, walaupun bekas. Ya namanya juga udah cinta, bukan suka lagi. Susah deh. Dan aku pernah baca tulisan begini, “Kalau cuma suka baca, gampang tinggal pinjam buku di perpustakaan atau semacamnya. Tapi kalau mencintai baca tanpa memiliki buku itu rasanya kurang pas,” begitulah kurang lebih inti dari tulisan yang pernah kubaca itu. Karena aku pernah baca tweet orang begitu, tapi lupa dari siapa, hehe.

Oh iya, novel yang akhir-akhir ini baru kubeli, yaitu Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy. Entah itu aku yang salah atau gimana, aku baper akut abis baca tuh novel. Dan aku punya impian baru, yaitu menjadi perempuan sholehah ^-^

.

.

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog robbyharyanto.com dengan tema “Aku dan Buku”

.

With love,

Mathar